Fayakhun Andriadi: Monorail Mengatasi Kemacetan?
Jika melihat Malaysia, negara tersebut sukses menjadikan monorail
sebagai moda transportasi yang mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat
terhadap transportasi publik dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Sementara Jakarta yang sudah sejak lama
menghadapi persoalan kemacetan, baru menggagas monorail tersebut.
Di tengah
kondisi real jalanan kota yang terus didera kemacetan, mewujudkan kereta
monorail adalah sebuah terobosan yang perlu segera dilakukan. Hal ini untuk memulihkan
kepercayaan masyarakat terhadap transportasi publik, menekan pertumbuhan
kendaraan pribadi.
Sekalipun
demikian, monorail hanyalah moda transportasi alternatif yang dianggap paling
mujarab dalam membersihkan Jakarta dari kemacetan. Perlu adanya pemikiran
mendalam untuk mewujudkannya. Hal itu penting dilakukan untuk menghindari
kegagalan serupa bis Transjakarta.
Di Jakarta, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk
terjebak macet. Situasi macet terjadi saat sistem tranportasi yang ada sudah
tidak mampu lagi untuk mengalirkan lalu lintas. Saat jalan raya sudah tidak
lagi menyediakan cukup ruang bagi pergerakan orang dan distribusi barang lalu
membuat posisi saling mengunci antar kendaraan.
Berdasarkan
dokumen Pola Transportasi Makro Jakarta dan Studi Integrated Transport Master
Plan (SITRAMP) Jabodetabek menyebutkan bahwa kemacetan di jalanan Jakarta
terjadi akibat motorisasi besar-besaran yang terjadi dan ketidaknyamanan sarana
tranportasi. Motorisasi adalah sebuah pola ketergantungan mobilitas masyarakat
kota terhadap kendaraan pribadi atau sepeda motor.
Dalam rentang perkembangannya, kendaraan pribadi dan sepeda motor
tumpah ruah melebihi jumlah tranportasi publik yang ada. Berdasarkan data
Direktorat Lalulintas Polda Metro Jaya, tahun 2010 jumlah kendaraan di Jakarta
mencapai 11.362.396. Dari angka tersebut, kendaraan roda dua lebih mendominasi
dengan jumlah 8.244.346 unit. Tahun 2012, sebanyak 13.062.396 kendaraan semakin
menumpuk di jalanan Jakarta.
Sebenarnya dua persoalan penyebab macet (motorisasi dan
ketidaknyamanan sarana transportasi) saling berkait. Selalu hadir bersamaan
saat macet melanda lalulintas Jakarta. Motorisasi terjadi salah satu
diantaranya karena banyak orang sudah tidak lagi percaya pada transportasi
publik. Karena itu pola tingkah masyarakat dalam melakukan perjalanan di
Jakarta lebih memilih kendaraan pribadi atau sepeda motor daripada menggunakan
transportasi publik. Kecenderungan macam ini lebih merupakan pilihan rasional
masyarakat terhadap kondisi kendaraan yang ada di Jakarta. Dengan meminjam data
survei JICA SITRAMP, menyebut aspek keamanan dan kenyamanan menjadi alasan
memilih kendaraan pribadi atau sepeda motor.
Jalan raya lahir untuk melayani hajat orang banyak. Setiap warga
memiliki hak yang sama untuk menyintas dan menyeberang di jalan. Jalan raya
pada awalnya adalah ruang interaksi banyak orang. Di jalan setiap individu
memililiki kesempatan yang sama dalam menggunakan setiap ruas jalan.
Dalam diskursus transportasi, Jakarta pada tahun 1970-an selalu
menjadi rujukan moda transportasi humanis aman dan ramah lingkungan. Bagaimana
moda transportasi yang ada mengikuti bentuk dan ruas jalan. Untuk jarak dekat,
masyarakat Jakarta hanya membutuhkan becak sebagai alat transportasi dan trem
untuk jarak jauh. Moda trasnportasi yang berkembang saat itu tidak
kontraproduktif dengan keberadaan ruas jalan dan kebutuhan masyarakat. Artinya,
kehadiran alat transportasi itu seharusnya berkait erat dengan lingkungan jalan
raya dan melibatkan partisipasi masyarakat kota dalam menentukan moda
transporatsi dan regulasi transportasi. Sehingga jalanan raya menyediakan cukup
ruang bagi publik untuk hajat orang banyak. Demikian juga transportasi
memainkan fungsinya sebagai transportasi publik yang tidak menyebabkan
kemacetan lalu lintas.
Komentar
Posting Komentar