Fayakhun Andriadi Ajak Benahi Mentaltas Bangsa Melalui Pendidikan



Ketua DPD Partai Golkar DKI Jakarta mengajak seluruh elemen bangsa untuk membenahi mentalitas bangsa yang buruk melalui pembenahan pendidikan. Melalui tulisannya, pertama Fayakhun mengingatkan bahwa perlu proses untuk membina generasi muda, sebab tidak bisa instan. Fayakhun menulis :
“Melahirkan generasi bangsa yang unggul, disiplin, pantang menyerah, taat aturan dan sebagainya tidak bisa serta merta dalam satu tahun dua tahun. Mereka harus dibina selama kurun waktu yang bisa dikatakan tidak pendek. Karena itu, jika kita mendambakan generasi muda bangsa unggul secara intelektual dan keahlian serta memiliki mentalitas yang benar, maka model kurikulum pendidikan kita sekarang jelas membutuhkan perbaikan yang berorientasi pada pembentukan karakter yang kita idamkan tersebut.”
Berikutnya, Fayakhun menawarkan model pendidikan antisipatoris dan preparatoris sebagai bekal generasi bangsa. Ia menulis : “Satu hal yang harus kita sadari, kultur ataupun model pembelajaran yang berkembang di lembaga pendidikan akan sangat mempengaruhi kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara kita di masa depan. Pendidikan itu selalu bersifat antisipatoris dan preparatoris, yaitu selalu mengacu ke masa depan dan selalu mempersiapkan generasi bangsa untuk kehidupan masa depan. Kondusif atau bobroknya mentalitas dan cara berpikir generasi bangsa di masa depan sangat tergantung pada lembaga pendidikan kita pada saat sekarang.”

Disisi lain, dalam pengamatan Fayakhun kurikulum pendidikan di Indonesia tidak mendukung untuk melahirkan generasi yang bermental baik. “Saya melihat, kurikulum sekolah tidak mendukung bagi pembentukan generasi idaman, generasi yang cakap mengarungi kehidupan. Salah satu kelemahan mendasarnya adalah, bahwa kurikulum sekolah melupakan pemberdayaan kecakapan manusia secara paripurna,” tutur Fayakhun.

“Pendidikan kita sekarang hanya fokus pada pemberdayaan otak kiri (IQ) dan melupakan pemberdayaan kecakapan otak kanan. Itu bukan berarti bahwa sekolah hanya memberikan mata pelajaran seperti matematika, bahasa, dsb , dan melupakan pelajarna agama, etika, menggambar, dan semacamnya. Akan tetapi semua pelajaran diajarkan dengan pendekatan 'hafalan', bahkan pelajaran agama dan etika sekalipun. Seperti dalam pelajaran agama, anak didik hanya dijejali pengetahuan yang bersifat definitif dan harus dihafal (apa itu rukun iman, rukun Islam, berupa jumlah nabi, berapa rukun shalat, kapan perang badar, dst); bukan mengarahkan anak menghayati nilai-nilai terdalam dari ajaran agama tersebut. Sehingga tidaklah heran jika jika melihat fenomena sosial yang paradoks: beribadah rajin, korupsi juga rajin; ngomong agama fasih, melakukan tindakan amoral juga hebat,” pungkasnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bagi Fayakhun Andriadi, Politik Proses Mensejahterakan Bangsa

Fayakhun Andriadi: Monorail Mengatasi Kemacetan?

Fayakhun Berikan Kuliah Pendidikan Inklusif