Fayakhun Andriadi Desak Pemerintah Serius Urus Perbatasan
Anggota Komisi
I DPR, Fayakhun Andriadi (Fraksi
Partai Golkar) mendesak pemerintah untuk serius menangani persoalan perbatasan.
Dikhawatirkan, nasionalisme warga kawasan perbatasan akan hilang.
Semestinya,
daerah perbatasan itu dijaga dan diurus secara serius karena merupakan
kedaulatan Negara. “Sekarang itu,warga disana jual hasil bumi ke Malaysia. Beli
sembako dan kebutuhan hidup ke Malaysia. Sakit berobat ke Malaysia. Nonton
televisi, televisi Malaysia. Kalau begitu terus menerus, lama-lama rasa nasionalisme
bisa terkikis juga. Ini berbahaya dan harus segera diurus.”
Pemerintah
seharusnya bisa berbuat lebih terhadap daerah perbatasan. Dia mengingatkan,
Kalimantan merupakan daerah yang kaya raya akan batu bara. Kalimantan menjadi
pengekspor terbesar kedua di dunia.
“Dengan CSR
(corporate social responsibility)2,5 persen saja dari perusahaan batu bara
sudah terang benderang itu daerah perbatasan. Pemerintah tinggal membuat
pembangkit listriknya saja, kan. Ini saya kira jalan keluar yang bisa kita lakukan.”
Pemerintah
pusat bersama pemerintah daerah diminta untuk memerhatikan nasib masyarakat dan
daerah perbatasan. Dia melihat ada ego sektoral yang menghalangi pembangunan
daerah perbatasan sehingga tidak optimal. Padahal, untuk kepentingan dan
kesejahteraan warga Negara, semestinya ego sektoral dihilangkan.
Fayakhun Andriadi (Fraksi
Partai Golkar) juga menyatakan, pemberdayaan wilayah terdepan (perbatasan)
masih menjadi prioritas komisinya dalam masa kerja 2010. "Sewaktu-waktu
akan turun ke lokasi untuk melakukan pemantauan, yaitu melaksanakan amanat
konstitusi secara konsekuen," tegasnya melalui ANTARA, di Jakarta, Rabu.
Ia mengatakan
itu, merespons masih sangat memprihatinkannya berbagai fasilitas serta tingkat
kehidupan warga maupun aparat penjaga tapal batas NKRI di berbagai wilayah.
"Adalah tidak benar dan tidak bisa dibenarkan, Pemerintah telah lalai
dalam menjalankan amanat konstitusinya yaitu melindungi segenap warga dan
kedaulatan wilayah RI. Lihat saja, di mana-mana di wilayah perbatasan terdepan
Nusantara, hingga saat ini masih hidup begitu memprihatinkan, sangat jauh
berbeda dengan kondisi warga di negeri tetangga yang sama-sama masyarakat
perbatasan," ungkapnya.
Hal-hal
Krusial Fayakhun Andriadi lalu
menunjuk sejumlah hal krusial sebagaimana hasil kunjungan kerja (Kunker) di
beberapa wilayah tapal batas, terutama di Kalimantan baru-baru ini.
"Hal-hal krusial dimaksud, di antaranya peran dan kehadiran `negara` harus
lebih dirasakan oleh warga, dalam bentuk tersedianya listrik, jalan, air bersih,
sekolah dan sarana pelayanan kesehatan. Situasinya sekarang sekali lagi saya
nyatakan, benar-benar memprihatinkan," ujarnya lagi. Ia salut kepada PT
Telkom yang mulai bisa menghadirkan fasilitas telekomunikasi di wilayah
terdepan RI, seperti di wilayah tapal batas Kalimantan Timur-Sabah (Malaysia).
Tetapi,
Fayakhun Andiradi dkk merasa miris, ketika ada ungkapan polos dari beberapa
petugas perbatasan mengenai penggunaan alat telekomunikasinya. "Hasil
Kunker Komisi I DPR RI pada bulan Desember 2009 lalu menyimpulkan, hanya 30
persen dari pos-pos penjagaan TNI Angkatan Laut di perbatasan laut dan pos-pos
penjagaan TNI Angkatan Darat di perbatasan darat yang memiliki peralatan cukup
lengkap," ungkapnya.
Di sana,
menurutnya, memang sudah ada teropong dan senjata laras panjang, namun tidak
ada alat komunikasi standar seperti HF/VHF. "Sewaktu saya tanya, lalu
bagaimana kalau mau melapor" Dijawab: siap! pakai hape!. Kemudian saya
tanya lagi, hape khusus tugas atau pribadi" Dijawabnya: siap! pribadi! Hal
ini tentu membuat kami miris. Adalah tidak benar dan tidak bisa dibenarkan,
Pemerintah telah lalai dalam menjalankan amanat konstitusinya, yaitu melindungi
segenap warga dan kedaulatan wilayah RI," tandas Fayakhun Andriadi lagi.
Komentar
Posting Komentar