Fayakhun Andriadi Gemas Melihat Gorong-Gorong SEA Game
Menurut keterangan Fayakhun Andriadi Perhelatan SEA Games
XXVI memang baru akan dibuka secara resmi pada tanggal 11 –dan akan berlangsung
sampai 22 November 2011. Tetapi rombongan kontingen dari negara peserta sudah
mulai berdatangan sejak tanggal 2 November, terutama official dan tim sepak
bola yang pertandingan pembukanya sudah dimulai pada tanggal 3 November
mempertemukan negara Filipina vs Vietnam. Jakarta sendiri dijadwalkan akan
menggelar 266 even dari 23 cabang olahraga. Sedangkan 296 even dari 21 cabang
lainnya akan digelar di Palembang, Sumatera Selatan. Diperkirakan ada 6000 ribu
atlet yang berpartisipasi di luar offisial dan pendukung tiap negara.
Pemprov DKI Jakarta,
haqqul yakin, menurut Fayakhun Andriadi
sudah pasti sangat mengetahui hal ini sejak jauh hari. Sebagai tuan rumah dari
perhelatan besar, seyogyanya ini dijadikan momentum positif oleh DKI Jakarta
untuk menghadirkan citra positif kepada para ribuan tamu dari berbagai negara
tersebut. Fayakhun Andriadi
membayangkan, Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Fauzi Bowo akan serius
membenahi persoalan sosial dan infrastruktur menjelang kedatangan para tamu.
Problem sosial akut sehari-hari yang sering dikeluhkan oleh banyak pihak
diselesaikan secara elegan, mulai dari persoalan joki 3 in 1, pedagang kaki
lima yang buka lapak semaunya, peminta-minta, wajah semrawut transportasi
massa. Namun, Fayakhun Andriadi
kecewa.
Kusut gorong-gorong yang
berantakan-berserakan di jalan protokol utama itu, sebuah persoalan yang
menurut Fayakhun Andriadi sangat
sederhana dan terukur, telah membuyarkan segalanya: kok yang muncul wajah kota
yang semrawut, tak terurus. Kalau hal yang sepele saja tidak bisa diurus dengan
baik, bagaimana dengan hal lebih serius?
Kegagalan Pemerintah
Menurut Fayakhun Andriadi
Sudah berulangkali
Jakarta menjadi tuan rumah perhelatan atau pertemuan internasional yang melibatkan
banyak negara. Akan tetapi menurut Fayakhun
Andriadi momentum itu selalu tercederai oleh hal-hal yang merusak citra
wajah Jakarta. Seperti beberapa waktu lalu saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT)
ke-18 Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), DKI Jakarta membiarkan
problem-problem sosial terlihat kasat mata oleh setiap mereka yang lewat,
seperti joki 3 in 1, pengemis, kesemrawutan angkutan umum dan sebagainya.
Komentar
Posting Komentar